Ternyata sudah seminggu sejak saya terakhir meng-
update blog. Banyak pekerjaan yang harus kulakukan selama 7 hari kemarin, dan apa yang paling berkesan untuk kutuliskan?
Hmmm..... mungkin ingin kubagi cerita bahwa beberapa waktu lalu saya berulang tahun. Pertambahan usia –yang tentu bukan merayakan kemudaan- tapi bukan pula ’semakin tua’. Tapi saya merasa semakin matang.. cie..
Turning point saya yang pertama, saat pesawat yang kutumpangi untuk membawaku kembali ke Jakarta, mengalami turbulensi. Kejadian di awal tahun itu, membuka salah satu kesadaranku.... seandainya kamu kembali kepadaNya.. apa yang kamu tinggalkan? Saya memang belum berkeluarga, belum punya anak, belum ada harta berlimpah, tapi rasanya semua orang meninggalkan dunia ini dengan satu hal yang sama : orang seperti apakah kamu saat dikenang orang?
Yap! obituari apa yang bakal digoreskan orang saat mengingat kamu berpulang kepadaNya?
Dikenal sebagai orang yang baik hati; disayangi sebagai tante
funky sekaligus penuh welas asih kepada para keponakan (meski kadang keluar galaknya....); teman nongkrong menyeruput kopi sembari menghisap rokok hingga kesibukan
barista membereskan meja mengisyaratkan saatnya pulang?; atau teman curhat. Atau rekan nyontek pelajaran biologi dan
sharing jawaban ulangan kimia di bangku sekolah? (hehehe... Benk Benk, Obenk, Michael, kalian semua dimana sekarang?)
Turning point kedua, dalam soal sudut pandang berpikir dan bersikap. Tahun ini ada 2 buku yang kubaca dan –jujur saja- memberi saya inspirasi sekaligus bercermin diri : ’The Secret’ serta ’La Tahzan for Smart Muslimah’.
Baru tersadar diri ini suka lupa bersyukur. Justru sebaliknya menjadi Nona Pengeluh. Hmmm.. bukan salah jika buku-buku biografi seseorang menjadi motivator dan membakar semangatku untuk mengejar mimpi. Harus bisa mendapat ini, kejar itu, sekaligus merasa kurang... kurang... dan kurang. Terkadang membandingkan diri dengan orang yang di usia sama, lalu minder. Lalu, bertanya kemana Dia yang katanya Pemurah?
Jika dulu saya merasa tidak seberhasil orang lain, kini saya mensyukuri apa yang Tuhan anugerahkan padaku. Tidak perlu silau melihat ke atas, ingat pula masih ada yang berada di bawah.
Coba refleksi diri : setiap perjalanan hidup yang kamu telusuri dari tahun ke tahun bahwa kamu punya perjalanan hidup yang berharga untuk kamu syukuri. Bahwa yang sekarang tentu lebih baik daripada dulu.
Gaji saya yang sekarang, cukup untuk menopang hidup biaya seorang lajang di Jakarta. Membiayai kehidupan primer dan sekunder, sedikit menabung, serta terkadang banyakan borosnya.... Bisa makan setiap hari, sesekali menyeruput kopi sambil nongkrong di kedai kopi yang tinggal pilih sesuai
mood selera, sesekali
facial di klinik kecantikan, atau membeli buku dengan budget
unlimited.
Tentu ini peningkatan berkali lipat dibanding ketika masih bergaji asisten kampus. Mampunya cuma beli kaset (itupun satu dari sekian banyak keinginan) atau membeli buku secara selektif (karena memang dananya terbatas, dan lebih baik nongkrong baca buku di toko tsbt hehe...).
Pasti juga beda jauh dengan masa lalu, ketika harus menelan gondok saat menjadi penjaga stan kosmetik di pameran, dan pemiliknya cuma memberi diskon meskipun kami telah berhasil merayu cewek-cewek untuk membeli lipstik -yang di dalam hatiku- juga
amit-amit dari sisi warna serta kelembaban teksturnya. Tapi ga nolak kalau dikasih gratisan, dan bukan diskon, karena dulu berpikir lumayan bisa dandan variatif meski kantung anak kuliahan.
Kini, saya mampu berkata bahwa ”Tuhan memberi yang kita butuhkan, bukan kita inginkan. Semua menjadi indah pada waktunya.”
Lebaran lalu, yang jatuh di bulan yang sama dengan hari ulang tahunku, saya juga sudah mengisyaratkan bendera damai kepada seorang sahabat. Duh jujur, saya aslinya pendendam. Jika seseorang berkata atau berperilaku tidak mengenakkan, maka saya seumur hidup ingat perilakunya. Mencoret namanya, tidak mau berurusan lagi dsb.
Namun, ternyata itu sangat tidak sesuai dengan salah satu sendi wanita muslimah. ... Eh rasanya ga cuma Islam, semua agama juga melarang sifat jelek ya? Saya juga tidak luput dari kesalahan. Mungkin saya yang justru bertabiat jelek karena senang menguji kesabaran orang yang menyayangi saya?
Saya hanya mencoba terus memperbaiki diri, dan selalu berupaya hari ini lebih baik dari hari kemarin. Dan tentu saja semua langkah lancarku berkat doa dan dukungan keluarga, teman kantor, teman belanja, teman seprofesi, teman lintas bidang, teman usaha, teman olahraga dsb, dst.... (segudang penyebab saya bisa mengenal teman-teman tsbt).
Terima kasih untuk sahabat-sahabat hati yang telah mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Baik secara langsung, melalui SMS atau di jejaring sosial (Multiply, Friendster, Tagged, Hi5). Nah, yang paling mengena ucapan selamat ultah dari sebuah perusahaan asuransi : ”Selamat Ulang Tahun! Semoga panjang umur, selalu sehat dan banyak rezekinya”. Hahaha... cuocok banget tuh! Banyak rezeki supaya tambah rajin bayar premi demi masa tua :)
(Gambar dikutip dari :http://www.jigsawgallery.com/prodpics/C29417.jpg)