Ph: 12036707
skip to main | skip to sidebar

Wednesday, December 03, 2008

My Guilty Pleasure

Coklat adalah my guilty pleasure. Aneka penganan manis –kecil porsi, tapi besar kalori- seperti coklat, kue tart, es krim dsb gampang memicu kenaikan timbangan badan, tapi saya suka banget jenis makanan tsbt.

Kabar baiknya, coklat meredakan stres. Psikolog Dian Wisnuwardhani mengatakan coklat salah satu obat mujarab meredakan stres –suatu kondisi saat tubuh terganggu karena tekanan psikologis- selain buah-buahan karena kaya antioksidan. Selain itu, vitamin pada coklat dan buah-buahan mengembalikan stamina. (Koran Tempo, 29 November 2008). ... Dalam hatiku, pastilah Dian lupa problemnya coklat yang beredar di pasaran hanya kecil persentase kakao, selebihnya gula dan aneka bahan yang memicu tebal lingkar pinggang.

Pernah konsultasi ke dokter, ia katakan memang badan saya sensitif gula. Ini setelah dia memantau daftar makanan harian yang kusantap dan secara berkala menimbang badanku. Maksudnya, berat badan saya gampang kepicu dengan penganan manis. Akan tetapi, yang penting juga mengetahui takaran, food combining, dan olahraga teratur.... :0

Diri ini dari merasa sebal kenapa berat badanku melar sejak bekerja, hingga akhirnya berprinsip 'no problemo'.

Ohya, kalau merujuk pada informasi di atas, berarti saya stres melulu dong! Saya stres saat baca buku, stres saat ngetik depan komputer, stres saat ngopi di kafe... karena semua itu momen saya menikmati coklat. Pilihan? Tidak ada preferensi. Mulai dari Coklat cap Ayam Jago (masih ada di pasar ga ya?) hingga coklat berlabel made in Swiss.

Apakah kemarin saya stres? Entah... Yang jelas, saya ingin makan kue tart full coklat. Mungkin opera cake bersama kopi hangat. Sampai akhirnya terbayang sepotong cheesecake dingin, kusendok secuil lalu masukkan ke mulut. Rasakan sensasi dinginnya di langit-langit dan lidah, lalu guyur dengan mochacino hangat. Wuih.....


Hari itu saya ke Poins Lebak Bulus. Mencoba cari-cari kafe yang menarik, akhirnya mentok ke Oh La La lagi. Makanan yang ada? Hanya dua pilihan kue manis nan leker, dan kupilih brownies coklat. Dan ternyata.. ga enak!! Buat lidahku masih lebih terasa nendang rasa brownies Dunkin Donuts yang legit. Brownies coklat yang bentuknya seperti sepotong sabun itu rasanya seperti bolu yang disiram dengan coklat cair di atasnya. :(

Hari ini saya bakal keluar kantor. Jika acaranya kelar dalam 1-2 jam, mungkin saya bisa mampir ke NYDC di PIM-2 (masih ada ga ya? Sudah lama ga melanglang ke PIM-2...). Seingatku, di sana menu makanannya hampir sesuai dengan seleraku yang doyan manis. Oreo, coklat, taste yang milky. Kebayang cheesecake bertabur oreo.. nyam...nyam.....

Monday, December 01, 2008

Donat Odang-Ading

Mengunyah donat odang-ading
Gulanya manis bikin lidah terguling
Aku lapar jilati rautmu dalam mata mengerling

Dag dig dug dadaku
Kau kata nanti antar aku
Hingga ke pintu
Donat bulat pelan kugigit
Sisa di bibir, biar kau sapu nanti

Merah Marah

Bila bening mata tak memandang dalam kasih
Mencoba alirkan amarah
Tiada muara berlabuh

Mantra eros, cupido, pun tak mempan
Jika sudah emosi meradang
Aih! hampir tutup tahun, darling.........
Dan -sekali lagi- rapor cintamu masih merah

Puisi Berima

Hore!
Akhirnya berhasil membuat puisi berima : "Merah Marah" dan "Donat Odang-Ading".
Setelah selama ini hanya berniat mencoba, tapi selalu menunda, akhirnya kupaksakan. Harus! Akhirnya, terbit juga inspirasi pilihan kata. Pasti masih jauh dari sempurna, tapi hargailah prestasi sendiri :))

Meski puisi modern membebaskan kita dalam pilihan kata, namun puisi berima yang identik gaya dulu, kadang terasa unik, lebih bernuansa. Sama seperti kembali ke semangat retro, vintage, sesekali kita kembali ke asal.

Bibir Sumbing

“Lho, gue kan Batman, masih bangun malam-malam,” kataku.

”Hehehe.... Tahu apa beda Batman dan Superman?” balas si lelaki, sebut saja X. Lalu ia melanjutkan perkataan, ”Batman pakai celana dalam di dalam, sedangkan Superman pakai celana dalam di luar,” katanya.

”Hehehe...”

”Tahu apa beda lain dari Batman dan Superman?” kata X.

”Batman pakai topeng, sedangkan Superman tidak pakai,” jawabku.

”Bukan. Batman itu sumbing, sedangkan Superman dobel sumbing,” kata X.

Saya speechless. Maksud lu apa???

Yap! Saya memang lahir dengan berbibir sumbing. Saya sadar, parut itu memang terlihat di mata orang-orang yang memandang wajah saya. Namun, saya anggap baru kali ini mendengar ucapan paling menohok dari seseorang.

Apakah saya menjadi terhina? Yap! Memang!

Tapi, apakah gara-gara ucapan itu saya merasa rendah diri? Tidak!

Apakah saya jadi merendah, menganggap diri tidak pantas untuk dekat-dekat dirinya? No way!

Justru, saya bisa menilai kedangkalan otak pria tersebut, yang cuma tau berkelakar gaya Srimulat. Menembak kekurangan orang. Apalagi cuma berani berkomentar demikian via telepon. Lebih jauh lagi, siapa pula yang duluan mengejar-kejar dan menelepon? Situ kan? Bukan saya yang mencari Anda. Aih, mungkin kejantanan dia memang hanya sejempol. Sejengkal pun tidak layak untuk saya jadikan teman.

Dalam peristiwa lain, beberapa waktu lalu saya pergi tugas ke luar kota. Bapak yang bertugas mengantar-jemput kami selama di sana, dalam suatu sesi pemecah kesunyian di mobil, berkata :

”Bapak wakil bupati juga sumbing,” kata dia. Saya jelas mengerti maksud kata ’juga” dalam obrolan dia.

”Ohya?” hanya itu jawaban saya. Hanya dalam hati saya membatin, ”Biar sumbing tapi beliau jadi wakil bupati. Sedangkan kamu? Cuma jadi supir….”

Bibir sumbing hanya tidak enak dilihat oleh mata yang memandang. Selebihnya, tidak ada yang patut dikasihani. Kami dikaruniai otak yang normal (contohnya, dalam suatu tes IQ saya bahkan termasuk kategori di atas rata-rata) dan bentuk fisik yang sama dengan manusia lainnya.

Dengan kata lain, kami bisa berpikir, dan memanfaatkan semua kemampuan panca indera. Tidak butuh fasilitas-fasilitas khusus yang memposisikan kami handicapped. Persoalan yang kami hadapi hanya perlu dipecahkan dengan uang dan operasi plastik. Atau make-up koreksi melalui kosmetik.

Memang ini problemnya. Kaum bibir sumbing menderita Pelecehan Mental, antara lain :
1. Akan menyakitkan hati jika ibu-ibu hamil menatap muka kami, lalu terlihat mengusap-usap perutnya yang melendung. Duh, ketauan sekali di dalam hati dia berkata ”Amit-amit. Semoga bayi saya tidak lahir seperti itu”. (Tapi tentu bayi orang tersebut tidak bakal berbibir sumbing gara-gara melihat orang berkondisi demikian).
2. Kami berotak normal, dan tidak ada kekurangan fisik. Sehingga dalam persaingan kerja, pelajaran, olahraga dsb orang-orang ’kalah’ mencari kelemahan dengan menjadikan kondisi muka kami sebagai sasaran tembak. Seolah berkata, ”Halah, mau kamu menang, duit punya, tapi kamu kan Sxxxxxx. Ada kekurangan yang diberikan sama kamu.”
3. Mendapat pertanyaan tolol dari orang, ”Di bibir kamu itu kenapa?” seraya memperagakan tangan di atas mulutnya.
4. Mendapat pengalaman tidak simpatik dari seorang dokter bedah plastik wanita saat saya berusaha wawancara untuk liputan kesehatan. Wanita itu judes, tidak ramah, dan sombong. Mungkin memang begitu kelakuannya, namun aku jadi menangkap kesan dia mengira saya adalah wartawan miskin yang bermanis-manis dulu, lalu jika sudah kenal, minta dioperasikan gratis. Cuih..! Padahal, saya (notabene : pakai uang orangtua) sudah merasakan bedah plastik negeri tetangga jauh sebelum kamu menjadi dokter bedah kenamaan di Indonesia!

Bagi saya pribadi, memang syukur mendapat orang tua cukup berada sehingga mampu membawa saya ke dokter bedah plastik. Jadi, tidak selalu kelahiran dalam kondisi seperti ini berasal dari kalangan miskin.

Selain itu, dari kecil orangtua saya tidak membeda-bedakan saya dengan saudara saya yang lain (yang normal). Bahkan, meski anak bungsu tidak mengalami over proteksi. Sekarang saya paham bahwa mungkin itu bagian dari pelajaran bahwa dunia tidak bakal seramah di rumah.

Apakah karena keturunan? Berdasarkan suatu literatur, kawin antar kerabat atau saudara bisa memicu (yang jelas ini bukan terjadi di keluarga saya). Akibat kekurangan seng di saat hamil. Bagi tubuh, seng dibutuhkan enzim tubuh. Atau kekurangan vitamin B6 dan B kompleks, infeksi pada janin pada usia kehamilan muda, dan salah minum obat-obatan atau jamu.

Ingatan saya tentang rumah masa kecil, keluarga kami memelihara berbagai jenis hewan karena kakak-kakak saya doyan binatang. Mulai dari burung (perkutut, merak, nuri), anjing, ikan, ayam, kelinci hingga monyet. Jadi saya bakal menggaris bawahi untuk tidak memiliki hewan peliharaan di dalam rumah.

Pernahkah saya marah kepada Tuhan? Bertanya mengapa Ia tidak tersenyum ketika menciptakan saya? Pernah! Tapi, marah-marah tidak bakal membuat saya berubah menjadi Milla Jovovich. Kemudian saya anggap ini jadi pengingat diri untuk menjadi manusia yang rendah hati. Pandai memilih kata-kata yang diucapkan, supaya apa yang meluncur dari bibir ini bukan hinaan terhadap orang lain, bukan nge-gosip gomongin orang.

Kaum berkondisi seperti ini pastilah orang yang sensitif. Meski dia berbalut baju mewah, berkosmetik Elizabeth Arden, dan bersepatu Jimmy Choo.

Namun, lahir dengan kondisi ini, jangan menjadi rendah diri dan tertutup. Justru harus Sadar Diri dan Jaga Diri.

Sadar Diri bahwa hidup ini adalah kompetisi. Harus bekerja ekstra ketimbang ’orang normal’. Tidak mungkin bersaing dari sisi wajah, namun berlatih untuk mengisi otak. Muka ga menarik, tapi badan dirawat. Harus ada sisi lain yang membuat mampu menegadahkan muka. Termasuk membuktikan bisa mencari uang sendiri. Tidak berlebihan memang, tapi yang penting cara halal, cukup untuk belanja dan sebagian ditabung. Bukan parasit menunggu tunjangan dari orang tua.

Membuat kita jaga diri, khususnya untuk yang perempuan. Kalau kita tidak menghormati diri, apalagi kehormatan lain yang bisa kita banggakan? Bagaimana dalam kisah cinta? Perempuan berkondisi demikian sepertinya lebih sulit dalam kisah cintanya dibanding pria. Mungkin memang kondisi seperti ini membuat kita (perempuan) bisa menjadi teman yang baik, namun dianggap bukan pasangan yang bagus. Kesannya bahwa kita dikutuk dewa. Namun saya tidak bakal meringkuk menangis di sudut tempat tidur gara-gara itu. Daftar nama pria yang pernah kukencani berderet, pacaran dan patah hati juga bagian dari hidupku seperti wanita lainnya. Bibir yang tampilannya tak menarik ini, juga sudah lebih dari sekali dikecup - dan lelaki tersebut yang memulai duluan, paling tidak membuktikan meski kondisi bibir saya begini, tidak ada masalah dalam hal itu- berarti dia yang tertarik, bukan??

Kita toh hidup bukan untuk menjadi Cinderella menunggu Pangeran Tampan. Hanya masalah waktu untuk menemukan pria yang melihat kita lebih dari ’itu’. Jika suatu waktu pangeran itu hadir, tentulah bukan HANYA melihat kita dalam segurat parut mengganggu di wajah. Karena –seperti saya bilang di awal- parut ini bisa hilang berkat operasi atau koreksi kosmetik. Mari menjalani hidup sembari menanti orang yang bakal melihat sejumlah kelebihan kita : cerdas, baik hati, setia, penuh kasih sayang, teman dalam suka maupun duka, dsb

Semoga tulisan ini menginspirasi rekan-rekan berkondisi sama.

PS : Mr. X belum pernah merasakan ciuman maut saya... :p

Jam Kerja Orang Jakarta

Pemerintah Provinsi Jakarta bakal memajukan waktu masuk sekolah 30 menit menjadi jam 6.30 untuk mengurangi tingkat kemacetan. Rencananya kebijakan yang berlaku bagi seluruh sekolah, baik negeri maupun swasta, per 1 Januari 2009

Aih, orang-orang pemda yang memberlakukan kebijakan ini pastilah punya mobil untuk setiap anggota keluarga. Ibu dan ayah punya kendaraan masing-masing, ada mobil khusus untuk mengantar anak-anak sekolah dan/atau kursus, serta ada mobil ’jelek’ untuk babu ke pasar.

Biasanya sang bapak/ibu mengantar anak ke sekolah. Jadi, satu mobil bakal diisi oleh bapak yang menyetir mobil, mengantarkan anak terlebih dulu ke sekolah -yang rata-rata memberlakukan jam masuk 7.00 WIB- kemudian mengantarkan si istri bekerja dan destinasi terakhir adalah kantor si bapak.

Kalau kita berasumsi 1 mobil sekeluarga (bapak, ibu, anak) maka jam berangkat para orangtua juga bakal lebih pagi. Kemacetan lebih awal terjadi pula.

Bagaimana pula dengan nasib para guru atau anak sekolah yang rumahnya jauh? Berarti mereka harus berangkat lebih cepat dari biasanya. Nah, apakah kendaraan umum sudah ada pada saat itu? Itu berarti Pemprov harus mengkoordinasikan dengan jam operasional kendaraan umum seperti PPD, metro mini dsb.

Akar kemacetan kan jumlah kendaraan bermotor di Jakarta. Jangan sampai, gara-gara mengejar on-time kerja, mereka cicil motor dan ujung-ujungnya menambah macet jalanan.

Bahkan, seperti dikutip dari Koran Tempo Sabtu (22/11), Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto mengimbau kantor swasta di Jakarta Utara dan Jakarta Pusat masuk jam 07.30, sedangkan di Jakarta Barat dan Jakarta Timur pukul 08.00.

Ada nasehat orangtua, lebih baik bercermin diri dulu, baru mengomentari orang lain. Berarti... orang-orang Pemprov sendiri masuk kantor jam berapa ya?????

Tuesday, November 25, 2008

Hanyut Larut

: Kemana Cinta Itu Pergi

kemana cinta itu pergi
ketika sajak sudah berakhir
lalu nyanyian terhenti di rongga dada
perahu ternyata sudah berkarat lupa melaut
enggan memulai layar


Jakarta, Awal September 2008

Friday, October 31, 2008

Dompetku Tertinggal

Setelah menikmati cuti 4 hari, masuk kerja kembali di hari Jumat ini. Berangkat jalan kaki dari kos di pagi hari, sudah kembali menjumpai kemacetan di jalan depan kantorku.

Tapi yang aku sukai dari kemacetan ini, berarti aku gampang menyeberang. Maklumlah, dari lintasan perjalanan dari kos menuju kantor, tidak ada jembatan penyeberangan. Zebra cross memang ada, tapi coba saya tanya kepada pembaca, rasanya jarang atau nyaris tidak ada pengendara roda empat, apalagi sepeda motor, di Jakarta yang mau berbaik hati menghentikan laju kendaraannya untuk memberi pejalan kaki kesempatan menyeberang.

Mereka mau berhenti karena lampu merah. Bahkan, kadang meski lampu merah menyala sebagai tanda berhenti, masih diterabas juga kan?! Apalagi, jembatan penyeberangan kadang bersaing pula dengan sepeda motor. Mereka juga menjadi 'penyeberang', atau jembatan penyeberangan di kota Jakarta malah beralih fungsi menjadi lokasi jualan pedagang kaki lima.

Agh, oke hari ini aku sangat senang..senang... sekali karena masih segar setelah beberapa hari berlibur meski cuma kuhabiskan dengan nonton film dan tidur. Datang ke kantor, cek e-mail kantor & pribadi yang menumpuk, diskusi pekerjaan bersama rekan kantor tentang proyek mendatang, hingga sampailah waktu makan siang.

Cek saku tas tempat dompet biasa disimpan... haduh! kok ga ada??? :((

hua! bener dompetku ketinggalan di kos!!

Mungkin karena aku berangkat dari kos yang jaraknya cuma jalan kaki sekitar 10 menit. Tidak mengeluarkan dompet, dan kebetulan tadi pagi memang ganti tas. Mengganti tas di detik2 terakhir sebelum berangkat, ternyata beresiko ada barang yang kelupaan, ya?!

Yang jelas, kelupaan ini membuat saya memang harus balik ke kos untuk mengambil dompet. Sebetulnya setelah jam kantor, mau lanjut menghadiri undangan acara Halal Bihalal klien di Jakarta Barat. Berarti ada untung, yaitu sekalian ganti baju untuk menjadi partygoer..haha..

Tapi yang jadi masalah saat jam makan siang gini, siapa yang mau berbaik hati memberikan utang ya??

Jadi ingat juga pernah beberapa kali ke kantor, lupa bawa handphone. Waktu itu, saya merasa ada pembenaran pada hari kerja tsbt tidak terganggu kring bunyi ponsel atau tanda pesan pendek SMS masuk. "Kalau memang perlu, kan bisa menelepon ke nomor kantor?" kataku membatin.

Namun ternyata ketika kembali ke kos, saya menemukan berderet miscall dan SMS di ponsel. Termasuk juga yang lumayan mendesak untuk dijawab. Agh.. memang kita sekarang tidak bisa menjauh dari perangkat teknologi dan kemajuan zaman ya?

Seandainya ga bawa dompet bisa diakalin dengan membeli makanan melalui barter barang. Misalkan seporsi gado-gado setara dengan tumpukan surat kabar selama seminggu penuh? Atau ponsel CDMA ku ditahan dulu di restoran padang atau Popeyes yang kebetulan dekat dengan kantor?

Wednesday, October 29, 2008

Tutup Buku

Aku akhirnya menyerah
Bukan kalah,
Tapi sanggup ku berbatas
Hingga ujung kumampu bertahan

Terapung kadang menyenangkan
Lebih sering melelahkan
Ku bakar keping hati
Namamu menambah torehan jejak perjalanan diri


Jakarta, (* ............. *)

Friday, October 24, 2008

Tambah Umur, Tambah Dewasa



Ternyata sudah seminggu sejak saya terakhir meng-update blog. Banyak pekerjaan yang harus kulakukan selama 7 hari kemarin, dan apa yang paling berkesan untuk kutuliskan?

Hmmm..... mungkin ingin kubagi cerita bahwa beberapa waktu lalu saya berulang tahun. Pertambahan usia –yang tentu bukan merayakan kemudaan- tapi bukan pula ’semakin tua’. Tapi saya merasa semakin matang.. cie..

Turning point saya yang pertama, saat pesawat yang kutumpangi untuk membawaku kembali ke Jakarta, mengalami turbulensi. Kejadian di awal tahun itu, membuka salah satu kesadaranku.... seandainya kamu kembali kepadaNya.. apa yang kamu tinggalkan? Saya memang belum berkeluarga, belum punya anak, belum ada harta berlimpah, tapi rasanya semua orang meninggalkan dunia ini dengan satu hal yang sama : orang seperti apakah kamu saat dikenang orang?

Yap! obituari apa yang bakal digoreskan orang saat mengingat kamu berpulang kepadaNya?

Dikenal sebagai orang yang baik hati; disayangi sebagai tante funky sekaligus penuh welas asih kepada para keponakan (meski kadang keluar galaknya....); teman nongkrong menyeruput kopi sembari menghisap rokok hingga kesibukan barista membereskan meja mengisyaratkan saatnya pulang?; atau teman curhat. Atau rekan nyontek pelajaran biologi dan sharing jawaban ulangan kimia di bangku sekolah? (hehehe... Benk Benk, Obenk, Michael, kalian semua dimana sekarang?)

Turning point kedua, dalam soal sudut pandang berpikir dan bersikap. Tahun ini ada 2 buku yang kubaca dan –jujur saja- memberi saya inspirasi sekaligus bercermin diri : ’The Secret’ serta ’La Tahzan for Smart Muslimah’.

Baru tersadar diri ini suka lupa bersyukur. Justru sebaliknya menjadi Nona Pengeluh. Hmmm.. bukan salah jika buku-buku biografi seseorang menjadi motivator dan membakar semangatku untuk mengejar mimpi. Harus bisa mendapat ini, kejar itu, sekaligus merasa kurang... kurang... dan kurang. Terkadang membandingkan diri dengan orang yang di usia sama, lalu minder. Lalu, bertanya kemana Dia yang katanya Pemurah?

Jika dulu saya merasa tidak seberhasil orang lain, kini saya mensyukuri apa yang Tuhan anugerahkan padaku. Tidak perlu silau melihat ke atas, ingat pula masih ada yang berada di bawah.

Coba refleksi diri : setiap perjalanan hidup yang kamu telusuri dari tahun ke tahun bahwa kamu punya perjalanan hidup yang berharga untuk kamu syukuri. Bahwa yang sekarang tentu lebih baik daripada dulu.

Gaji saya yang sekarang, cukup untuk menopang hidup biaya seorang lajang di Jakarta. Membiayai kehidupan primer dan sekunder, sedikit menabung, serta terkadang banyakan borosnya.... Bisa makan setiap hari, sesekali menyeruput kopi sambil nongkrong di kedai kopi yang tinggal pilih sesuai mood selera, sesekali facial di klinik kecantikan, atau membeli buku dengan budget unlimited.

Tentu ini peningkatan berkali lipat dibanding ketika masih bergaji asisten kampus. Mampunya cuma beli kaset (itupun satu dari sekian banyak keinginan) atau membeli buku secara selektif (karena memang dananya terbatas, dan lebih baik nongkrong baca buku di toko tsbt hehe...).

Pasti juga beda jauh dengan masa lalu, ketika harus menelan gondok saat menjadi penjaga stan kosmetik di pameran, dan pemiliknya cuma memberi diskon meskipun kami telah berhasil merayu cewek-cewek untuk membeli lipstik -yang di dalam hatiku- juga amit-amit dari sisi warna serta kelembaban teksturnya. Tapi ga nolak kalau dikasih gratisan, dan bukan diskon, karena dulu berpikir lumayan bisa dandan variatif meski kantung anak kuliahan.

Kini, saya mampu berkata bahwa ”Tuhan memberi yang kita butuhkan, bukan kita inginkan. Semua menjadi indah pada waktunya.”

Lebaran lalu, yang jatuh di bulan yang sama dengan hari ulang tahunku, saya juga sudah mengisyaratkan bendera damai kepada seorang sahabat. Duh jujur, saya aslinya pendendam. Jika seseorang berkata atau berperilaku tidak mengenakkan, maka saya seumur hidup ingat perilakunya. Mencoret namanya, tidak mau berurusan lagi dsb.

Namun, ternyata itu sangat tidak sesuai dengan salah satu sendi wanita muslimah. ... Eh rasanya ga cuma Islam, semua agama juga melarang sifat jelek ya? Saya juga tidak luput dari kesalahan. Mungkin saya yang justru bertabiat jelek karena senang menguji kesabaran orang yang menyayangi saya?

Saya hanya mencoba terus memperbaiki diri, dan selalu berupaya hari ini lebih baik dari hari kemarin. Dan tentu saja semua langkah lancarku berkat doa dan dukungan keluarga, teman kantor, teman belanja, teman seprofesi, teman lintas bidang, teman usaha, teman olahraga dsb, dst.... (segudang penyebab saya bisa mengenal teman-teman tsbt).

Terima kasih untuk sahabat-sahabat hati yang telah mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Baik secara langsung, melalui SMS atau di jejaring sosial (Multiply, Friendster, Tagged, Hi5). Nah, yang paling mengena ucapan selamat ultah dari sebuah perusahaan asuransi : ”Selamat Ulang Tahun! Semoga panjang umur, selalu sehat dan banyak rezekinya”. Hahaha... cuocok banget tuh! Banyak rezeki supaya tambah rajin bayar premi demi masa tua :)

(Gambar dikutip dari :http://www.jigsawgallery.com/prodpics/C29417.jpg)

Monday, October 13, 2008

Nonton Laskar Pelangi



Hore! Saya memenangkan tiket gratis nonton bareng Laskar Pelangi dari Majalah Femina bekerjasama dengan Miles Films.

Yang berat adalah perjuangan bangun pagi di hari Sabtu 11 Oktober ’08. Namun yang bikin terasa istimewa dan berbeda dibanding menonton secara biasa, adalah kehadiran sutradara Riri Riza, Mira Lesmana, dan artis Cut Mini yang menjadi salah satu pelakon.

Nah, lazimnya kan sutradara, produser atau bintang film hadir di acara pemutaran perdana atau jumpa pers untuk wartawan.

Riri Riza memberikan sepatah atau lebih kata, sebelum film diputar. Ia menceritakan pengalaman dan latar belakang pembuatan film yang diangkat dari buku berjudul sama. Ia mengatakan butuh waktu 1,5-2 tahun untuk dirinya bersama Mira untuk menjadikan cerita yang diangkat dari karya penulis Andrea Hirata menjadi sebuah naskah film. Riri mengemukakan betapa Andrea sebagai ’pemilik asli cerita’ bersikap kooperatif, meskipun butuh berkali-kali perombakan script hingga yang ke-11 untuk ditunjukkan kepada Andrea Hirata.

Lalu yang menjadi keistimewaan kedua, saya tidak menyangka menjadi salah 1 dari 3 orang wanita dengan penampilan paling menarik. Saya sih memang semangat mengikuti dress code-nya yang mudah direalisasikan: colorful + jeans. Pokoknya acara kalau ada dress code, dan bisa kuikuti ya hayukkk...

Haha! Jujur lho, pada saat tim Femina menyuruh saya menyematkan pita biru di baju, saya kira cuma menjadi penanda penonton dari acara Femina, karena pada saat yang sama, ada pula acara nonton bareng bersama yang digelar media lain seperti Readers Digest, Radio Delta FM, Prambors.

Hehe.. hadiah berupa paket produk perawatan kulit dari Dermozone itu memang gueee bangett deh!

Filmnya (yang bukunya belum saya baca) bercerita tentang pertemanan anak-anak Belitong yang menjadi murid SD Muhammadiyah yang re’ot dan nyaris hancur. Namun kerja keras Bu Mus (Cut Mini) dan Pak Harfan (Ikranegara), terus menularkan semangat kepada 10 muridnya, sekaligus memberikan masa kecil yang indah bagi anak-anak didiknya meski berasal dari kalangan tidak mampu.

Suatu cerita yang touchy, ada kesedihan dan tawa, menghibur sekaligus mengharukan, selain memotret realita masyarakat miskin di daerah yang kaya sumber daya alam. Belitong dengan potensi pertambangan timah, tetap tidak mampu mengangkat masyarakat aslinya yang kebanyakan ras Melayu menjadi manusia kaya secara materi. Meski kekayaan alam tersebut dieksploitasi sejak zaman penjajahan Belanda.

Ini memang cerita tentang Indonesia. Film berdurasi sekitar 2 jam ini wajib ditonton! Ga usah berusaha membanding-bandingkan bagus mana antara novel vs film.

(Gambar dikutip dari : href="http://laskarpelangithemovie.blogspot.com/" )
 


You are viewing a mobilized version of this site...
View original page here

How do you rate mobile version of this page?

Mobilized by Mowser Mowser