Posted by: Arsyad Salam on: September 27, 2008
Anda ingin mati tapi tak ada biaya? Datang saja ke Indonesia. Di negeri ini biaya untuk menjemput ajal alias sang maut tak lebih dari Rp 30.000. Tak percaya? Tengok saja kasus pembagian zakat di Pasuruan belum lama lalu. Saat itu 21 orang menjemput ajal dengan cara unik dan mungkin satu-satunya di dunia: Mati kehabisan nafas akibat berdesakan di antara ribuan orang memperebutkan uang yang tak seberapa itu.
Pemandangan yang sungguh memiriskan hati lantaran kejadian ini menunjukkan dengan terang benderang bahwa betapa miskinnya masyarakat kita hingga rela berjibaku demi uang receh yang secuil jumlahnya ini.
Saya membayangkan apa kira-kira yang ada dalam pikiran presiden saat menonton tayangan kejadian itu di TV.Mungkin dia juga turut sedih, dongkol, sakit hati,. Tapi masihkah presiden dan petinggi negeri yang katanya gemah ripah loh jenawi ini punya rasa malu? Rasa malu terhadap Indonesia, negerinya sendiri?
Kejadian di atas juga menunjukkan bahwa masalah yang berkaitan dengan sumbang-menyumbang ala negeri kita tak lepas dari kompleksnya setback masalah itu. Ada ketidakpercayaan terhadap pemerintah beserta aparatnya. Mungkin ada juga sikap riak para dermawan penyumbang zakat. Haji Syaikon mungkin berniat luhur tapi mungkin juga tidak. Seandainya cara bagi zakat itu di atur dengan rapid an tak menumpuk di rumahnya mungkin kejadian ini tak akan terjadi. Tapi yah. Itu tadi, kembali kepada niat sang pembagi zakat.
Kembali pada soal murahnya ongkos mati di negeri kita. Hampir seluruh kejadian mati secara massal merupakan akibat langsung dari salah urus terhadap beberapa masalah yang sudah akut sejak dulu. Tentu termasuk di dalamnya penyakit kronis bernama korupsi. Jembatan wisata putus, puluhan orang mati. Kereta api ambruk puluhan orang tewas. Gedung sekolah roboh, puluhan anak-anak tertimpa reruntuhan gedung. Pesawat jatuh puluhan penumpang tak selamat. Kejadian kejadian ini membuktikan gawatnya soal manajemen di negeri kita. Dan para pengelola manajemen negeri ini tentu tak bisa berdalih bahwa mereka juga manusia. Jangan pernah menggunakan unsur terlemah manusia yakni kekurangan sebagai alasan pembenaran tentang semua persoalan yang terjadi. Mengapa orang Singapura mampu membuat bandara Changi, sebuah bandara tercanggih dan paling rapi di dunia? Dan mengapa kita hanya mampu bikin Cengkareng yang tampak seperti terminal yang penuh calo dan preman?
Tapi tak apalah. Yangh jelas banyak orang yang mati dengan ongkos murah. Lalu siapa berani menjamin bahwa persoalan serupa tak akan terjadi lagi? walllahu alambissawab
Posted by: Arsyad Salam on: September 12, 2008
Moesim tjari2 moeka para elite politiek terhadap kepada ra’jat soedah pada kentjang. Itoe para pejabat negeri jang rangkep djadi ketoea partej soedah poela berkoar2 di media poeblik. Moelai dari presiden, wakil presiden, para menteri maoepoen para koeda hitam jang siap2 bertaroeng dalam pilpres tahoen dimoeka ini.
Djikalaoe kampanje itoe dilakoeken oleh mereka jang betoel2 moerni ketoea partej tidak mendjadi masalah. Jang djadi soal adalah djika mereka itoe djoega adalah pedjabat poebliek jang artinja tiap2 dia orang itoe bitjara haroeslah menjangkoet kepentingan orang ramai. Begitoe seseorang telah mendjadi pedjabat poebliek maka dia orang itoe haroes toenjoekkan bahwa dirinja adalah milik semoea orang, seloeroeh ra’jat. Dia makin mendjaga diri dan awas terhadap bahasa2 jang mementingken dia poenja golongan, dia poenja poewak dan famili2.
Dus baik Presiden dan wakil presiden jang djelas2 bitjara mengenai daripada dia poenja partej itoe djelas2 menoenjoekkan bahwasanja mereka itoe boekanlah pemimpin seloeroeh ra’jat melainkan hanja oentoek golongan dia poenja partej sadja, golongan dia poenja poewak sadja.
Djadi djanganlah mentjari2 pembeladjaran politiek dari ra’jat kalo para pemimpin negeri sadja soedah mengadjarkan tjara2 jang tida’ betoel terhadap kepada ra’jat. Lagipoela selama para pemimpin negeri masih rangkep djabatan dengan mendjadi ketoea partej, akan djadi soelit poela mendjadi pemimpin seloeroeh ra’jat
Posted by: Arsyad Salam on: September 8, 2008
Saja ada lihat di tivi itoe para oelama moeda pada tjeramah soal daripada hikmah poeasa. Semoea nereka itu pada omong bagimana poeasa jang bae, jang berpahala zonder djaoeh daripada dosa. Oelama jang satoe bilang begini. Oelama jang laen bilang begitoe. Dus semoeanja bagoes2 dia orang poenja isi itoe chotbahnja.
Tapi saja djoega ada sebarang denger, itoe para moeballigh moeda kita berlakoe sematjam bintang pelem atawa artiis. Dia orang poenja gaja djoega meniroe2 daripada penghiboer2 atawa selebritis.
Kita orang semoea tentoelah haroes mensjoekoeri bahwasanja pendidikan agama soedah madjoe betoel di zaman ini. Sjiar agama soedah begitoe haibat. Laen dengan doeloe jang tjoeman sedikit orang jang kerdja di lapangan sjiar agama. Saja poen djoega tentoe patoet bersjoekoer oentoek ini.
Tapi kalaoe saja ada banding2ken nilai itoe sjiar agama sedari doeloe sampai sekarang tampaknja djoega soedah berlain lainan dia poenja nilai ataoe isi sjiarnja. Doeloe saja tjoema dengar itoe tjeramahnja Toean Hamka, Toean Moekti Ali ataoe Idham Chalid ataoe djoega Zainoeddin MZ. Wah mereka ini haibat2 betoel baik dari tjaranya bitjara poen djoega isi tjeramahnja. Tambahan djoega mereka ini poenja gaja hidoep sederhana sekali. Tida’ mau oenjoek dia poenja kehaibatan terhadap kepada orang laen.
Saja tidak maoe bilang kalaoe moeballigh moeda kita tidak bagoes tjaranya bitjara. Tapi seperti ada jang hilang dalam chotbah nereka jakni nilai esensial sjiar itoe. Moeballigh zaman ini soedah soelit kita bedaken antara jang benar2 moerni sjiar ataoe jang mana jang tjari popoelaritas semata. Kerna saja lihat dia orang poenja gaya (moebaligh sekarang) matjam artis sadja, tidak soenggoeh2 dia poenja maksoed maoe perbaiki oemmat, tapi sepertinja dia tjari popularitas oentoek dirinja sendiri dan moengkin djoega oentoek menambah dia poenja poendi2.
Tapi moedah2an doegaan saja ini meleset dan tidaklah betoel adanja.
Posted by: Arsyad Salam on: September 6, 2008
Kemaren doeloe saat masih betoel-betoel pagi, jaitoe sebeloemnja saja sempet minum koffee, dari sepagi boeta, saja lihat di televisi ada sematjam onar ketjil menjoal daripada salah tangkep itu marsose marsose atawa polisi terhadap kepada pelakoe-pelakoe criminal jang beloem tentoe dia orang adalah pelakoe itoe semoea kedjahatan.
Sedari moela heboh soal ini dioengkep, geger djoega tiada henti2nja kerna ada sebidji pengakoean dari Ryan jang didjoeloeki sang djagal dari Djombang itoe, en toch katanya, dia orang sendiri adalah jang memboenoeh orang laen jang namanja jaitoe Asrori. Padahal si Asrori jang soedah mati itoe para tertoedoeh jang memboenoeh dia soedah poela dipoetoes bertahoen-tehoen di boei
Geger achirnja beranak-pinak sehingga mentjapai satoe titik mengenai kesatoean petoegas polisi jang dianggep tida’ ataoe beloem lagi betjoes atawa professional bekerdja oetama sekali dalem mengoesoet tindak criminal dalam masyarakat.
Terlebih-lebih ada anggepan orang civil jang katanja para polisi kita, djeksa kita dan hakim kita selaloe minta voorschot atawa angpao dari mereka jang terkena perkara. Issue begini roepa memang soelitlah djika minta pemboektian tertoelis, tapi roepanja soelit djoega oentoek disanggah bahwasanja praktiik2 seperti ini memang betoel2 terjadi.
Maka moencoellah satoe peroempamaan bahwa kasoes2 polisi ataoe djoega djeksa termasoek para hakim jang minta sogok tadi sematjam orang jang boewang angin atawa kentoet dalam bahasa kasarnja. Orang jang memboewang angin bisa tertjium dia poenja baoe tapi tidak bisa tampak dan menampakkan diri sematjam batang kelapa ataoe djoega pohon tandjoeng. Maka begitoeh jalannja kedjadian perkara2 jang makin membikin tjaroet maroet hoekoem kita bertambah-tambah.
You are viewing a mobilized version of this site...
View original page here
JANG SOEDAH IKOET BITJARA